Inilah 4 Tingkatan Sabuk PSHT Siswa Sampai Warga

4 Tingkatan Sabuk PSHT yang Ditempuh Siswa PSHT
4 Tingkatan Sabuk PSHT yang Ditempuh Siswa PSHT

Ada 4 tingkatan sabuk PSHT yang akan ditempuh siswa untuk menjadi warga. Setiap tingkatan dilambangkan dengan warna yang merepresentasikan kepada suatu makna.

Tingkatan tersebut dimulai dari yang paling rendah, yaitu hitam atau polos. Setelah melaksanakan uji kenaikan sabuk siswa polos akan naik tingkatan menjadi jambon, lalu Hijau kemudian putih sebagai tingkatan tertinggi.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Para Pendiri PSHT dan Sejarah Pemimpin 1922–2022

Warna pada tingkatan urutan sabuk PSHT memiliki arti. Berikut adalah urutan tingkat sabuk PSHT lengkap beserta artinya.

4 Urutan Sabuk PSHT

1. Tingkatan Sabuk PSHT Hitam atau Polos

Polos merupakan tingkat paling dasar dari sabuk PSHT. Sebagai warna dasar dari PSHT, yaitu hitam, ini berarti juga sebagai kanvas kosong yang nantinya akan diisi oleh ilmu-ilmu ke-setia-hati-an atau ke-SH-an.

Sabuk polos adalah tingkatan untuk mengenal panca dasar PSHT. siswa mulai mengenal persaudaraan, olahraga, bela diri, seni, dan kerohanian dalam tingkatan ini.

Siswa beradaptasi dengan latihan bela diri di tingkatan ini. Membangun dasar dari kebugaran jasmani untuk memulai latihan bela diri adalah hal yang penting.

2.  Tingkatan Sabuk PSHT Merah Jambu atau Jambon

Pada tingkatan sabuk hitam polos siwa mendapatkan 30 senam dan 4 jurus. Setelah itu siswa polos mengikuti serangkaian kegiatan kenaikan tingkatan sabuk bersama-sama.

Banyak yang mengatakan bahwa tingkatan jambon adalah proses mencari jati diri. Oleh karenanya mentalitas sisea menjadi labil dalam latihan.

Baca Juga: 9 Gambar PSHT Keren Untuk Walpaper, Yuk Download!

Jambon juga merupakan warna yang bersifat ragu-ragu. Dalam teori warna, jambon merupakan perpaduan warna merah yang dicampur dengan putih. Sehingga menjadi warna yang bermakna ragu dan penuh pertimbnagan.

Pada tahapan ini, panca dasar kerohanian lebib ditekankan lagi kepada siswa jambon. Hal tersebut dilkukan guna mengisi “kekosongan” dalam keraguan siswa.

Selain itu, siswa jambon juga mendapat tambahan gerak. Misalnya pada latihan serangan yang meningkat menjadi maksimal 3–4 pukulan, tendangan, dan pertahanan.

3. Tingkatan Sabuk PSHT Hijau atau Ijo

Tingkatan sabuk PSHT setelah jambon adalah ijo atau hijau. Siswa jambon mendapat tambahan menjadi 50 senam dan 14 jurus. Sama seperti halnya kenaikan polos ke jambon, kenaikan ke tingkatan hijau pun dilakukan serentak.

Mulai tahap ini siswa dinyatakan telah memantapkan hatinya dan memiliki ketenangan lebih dari sebelumnya. Harapannya siswa memikiki keteguhan yang berasal dari hatinya setelah naik ke tahap sabuk hijau.

Siswa sabuk hijau dididik untuk mencapai kemantapan hati yang madep, karep, dan mantep dengan mengutamakan prinsip dari nilai-nilai ajaran PSHT.

Pada tingkatan hijau gerakan serangan maksimal mencapai 5–6 pukulan, tendangan, dan pertahanan. Jumlah senam yang dikuasai meningkat pula menjadi 60 dan 20 jurus. Sain itu, jurus Toya mulai diperkenalkan di tahap Ijo.

Baca Juga: 8 Makna Logo PSHT dalam Kehidupan Sehari-Hari

Tingkat Ijo memiliki peluang untuk disahkan sebagai warga PSHT tingkat 1. Tentunya dengan catatan sudah mendapat pelajaran jurus ke-17 serta menjadi pelatih pendamping. Syarat lain yang harus disanggupi adalah untuk meneruskan pelajarannya hingga selesai.

4. Tingkatan Sabuk PSHT Putih

Sabuk putih PSHT adalah tingkat tertinggi siswa PSHT. Warna putih berarti suci dan bersih. Pada teori warna, putih merupakan kombinasi dari semua spektrum warna yang dapat dilihat oleh mata manusia. Dengan kata lain, siswa PSHT pada tingkat sabuk putih telah menerima seluruh ilmu tentang PSHT yang perlu diketahui.

Siswa dapat disebut sebagai pendekar mulai tahap ini, oleh karenanya siswa dengan tingkatan sabuk PSHT putih diharapkan memiliki jiwa yang tenang dan selalu bertindak atas dasar kebenaran.

Sabuk putih dianggap sebagai ikatan kuat atas dasar kesucian dan kebersihan lahir dan batin. Sabuk ini dibuat dari kain mori yang biasanya digunakan sebagai kain kafan pada mayat.

Mori, dalam falsafah lambang PSHT, berarti sebagai ikatan persaudaraan yang kekal abadi sampai akhir hayat. Makna yang terkandung dalam nilai mori sejalan dengan visi PSHT yang, “Selama matahari masih bersinar, selama bumi masih dihuni manusia, selama itu pula PSHT jaya abadi selamanya”.

Siswa putih akan merampungkan tanggung jawabnya sebagai siswa dengan menamatkan pelajaran atau materi PSHT, baik itu kanuragan (bela dirj) maupun kerohanian (ke-SH-an).

Gerakan-gerakan tangan dan kaki berupa pukulan, tendangan, pertahanan, senam, jurus (termasuk jurus senjata), kuncian, dan cara lepasan pernafasan akan diajarkan semuanya. Semua itu tidak termasuk jurus terakhir, yaitu jurus ke-36.

Baca Juga: Gerakan Dasar Taekwondo: 6 Jenis Teknik Dasar Taekwondo

Itulah 4 tingkatan sabuk PSHT yang akan ditempuh siswa. Setiap siswa memiliki proses pencapaian kenaikan yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang terus berkembang. Hal tersebut tertuang dalam makna filosofis mori “sak pengadeg sak pengawe” yang artinya kekuatan tiap manusia berbeda-beda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *