Mukadimah PSHT, Arti dan Kandungan Isinya, Apa Saja?

mukadimah psht
mukadimah psht

Mukadimah PSHT sejatinya merupakan perenungan akan hakikat hidup manusia. Perenungan ini hendak menjadikan manusia yang utuh tanpa terjebak konteks materiil yang bersifat duniawi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, sosok manusia secara lahir dan batin dan menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Esa.

Mukadimah PSHT menjadi elemen yang penting dalam eksistensinya sebagai organisasi olahraga beladiri pencak silat. Anggota PSHT perlu memahami isi dan kandungan di dalam mukadimah tersebut.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: 4 Fakta Induk Organisasi Renang Indonesia adalah PRSI, Ini Ulasannya!

Isi Mukadimah PSHT

Bahwa sesungguhnya hakekat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan, demikianpun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan yang terutama, hendak menuju keabadian kembali kepada Causa Prima, titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat. Namun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninya.

SETIA HATI sadar meyakini akan hakiki hayati itu dan akan mengajak serta para Warganya menyingkap tabir/tirai selubung hati nurani dimana “SANG MUTIARA HIDUP” bertahta. 

Pencak Silat, salah satu ajaran SETIA HATI dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dan kebenaran terhadap setiap penyerang.

Dalam pada itu SETIA HATI sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan dari kebenaran hidup yang sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang diluar dirinya. Oleh karena itu Pencak Silat hanyalah suatu syarat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.

Baca Juga: Inilah 4 Tingkatan Sabuk PSHT Siswa Sampai Warga

Maka SETIA HATI pada hakekatnya tanpa mengingkari segala martabat-martabat keduniawian, tidak kandas/tenggelam pada jajaran Pencak Silat sebagai pendidikan kebutuhan saja, melainkan lebih menyelami ke dalam lambang pendidikan kejiwaan untuk memiliki sejauh-jauh kepuasan hidup abadi lepas dari pengaruh rangka dan suasana.  

Sekedar syarat bentuk lahir, disusunlah Organisasi dalam rangka “Persaudaraan Setia Hati Terate”, sebagai ikatan antara saudara “SETIA HATI” dan lembaga yang bergawai sebagai pembawa dan pemancar cita.

Kandungan Mukadimah PSHT

Jika kita hayati makna, maka sesungguhnya hakikat hidup manusia berkembang menurut takdirnya masing-masing menuju kesempurnaan. Manusia dihadapkan pada tujuan berupa

“hendak menuju keabadian kembali kepada causa prima”.

Kembali kepada zat yang berwenang sepenuhnya atas hukum sebab-akibat atau timbal balik. Mukadimah ini penuh akan pendekatan makna yang bersifat religius.

Jelas bahwa capaian yang hendak diraih dari ilmu Setia Hati adalah kesadaran luhur dalam bersikap, yang mana kita lebih mengenalnya dengan sebutan “budi”. Konteks dari capaian yang dimaksud ada dalam ungkapan yang terkenal dari PSHT, yaitu

“membentuk manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam jalinan persaudaraan yang kekal dan abadi”.

Paragraf pertama mukadimah PSHT membangun perspektif kita pada pemahaman mengenai hakikat hidup. Secara alami hakikat hidup itu berkembang menurut kodrat karena di dalamnya terdapat jiwa dan rasa untuk mengambil keputusan. Ajakan untuk mengenal diri sendiri, mengenal Allah dilakukan melalui perenungan mendalam. Apa yang terlihat oleh panca indra direnungkan untuk mendapat pemahaman penuh di dalamnya.

Baca Juga: 30 Falsafah PSHT Lengkap dan Artinya, Apa Saja?

Tujuan mengenal diri dan membentuk budi luhur ini diimplementasikan dalam sistem pembelajaran PSHT yang memiliki tingkatan sabuk. Misalnya kebersamaan akan rasa persaudaraan diberikan pada tingkat polos, akal untuk menepis keraguan diberikan pada tingkat jambon, introspeksi diberikan pada tingkat hijau, dan ngemong atau sifat merendah hati diberikan pada tingkat putih.

Itulah sedikit kandungan yang terdapat dalam mukadimah PSHT.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *